Pages

Wednesday, August 17, 2011

Tengkotak Milik "Alien"?

Misteri tengkorak-tengkorak aneh dari Peru

Ketika para arkeolog menemukan tengkorak-tengkorak aneh berbentuk memanjang di beberapa bagian dunia, segera muncul teori kalau tengkorak-tengkorak tersebut sebenarnya adalah milik para alien yang pada masa lampau mendatangi bumi. Benarkah begitu?




Saya sering mendapatkan pertanyaan mengenai tengkorak ini. Tetapi baru kali ini saya memutuskan untuk mempostingnya. Tengkorak ini telah banyak menimbulkan banyak kesalahpahaman karena bentuknya yang aneh dan tidak biasa. Namun, sebenarnya, ada penjelasan yang masuk akal mengenai keberadaannya.


Elongated Skull
Tengkorak-tengkorak misterius tersebut dinamakan elongated skull atau tengkorak memanjang yang mulai dikenal luas ketika Robert Connolly mempublikasikan foto-foto yang diambilnya dari seluruh dunia.


Kebanyakan tengkorak seperti ini ditemukan di Peru di antara tengkorak-tengkorak suku Inca lainnya. Karena itu, tengkorak memanjang ini juga dikenal dengan sebutan Peruvian Skull atau Inca Skull.

Tengkorak serupa kemudian juga ditemukan di banyak negara lain di dunia, mulai dari Jerman, Perancis, Mesir, Afrika dan yang terbaru adalah di Siberia. Menariknya, di Mesir kita bisa menemukan relief pada bangunan-bangunan mereka yang menunjukkan adanya tokoh-tokoh yang memiliki bentuk kepala memanjang seperti ini.

Salah satu contohnya adalah ratu Nefertiti yang termashyur. Lalu, konstruksi ulang yang dilakukan terhadap kepala raja Tutankhamon juga menemukan kalau raja ini memiliki bentuk kepala memanjang seperti Nefertiti.

Dari dulu, memang banyak yang percaya kalau bangsa Mesir telah membangun piramida dengan bantuan alien. Adanya relief ini semakin membuat banyak orang yang percaya kalau beberapa tokoh Mesir yang ternama adalah keturunan alien.

Relief yang menunjukkan ratu Nefertiti dengan topi besar


Raja Tutankhamon dengan kepala memanjang

Walaupun koleksi Peru adalah yang paling terkenal di dunia, namun tengkorak Peru yang diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun itu bukanlah tengkorak memanjang tertua yang pernah ditemukan.

Pada tahun 1982, para peneliti menemukan tengkorak yang diklaim sebagai milik manusia Neanderthal yang berasal dari tahun 45.000 SM di gua Shanidar di Irak. Ini membuat tengkorak gua Shanidar menjadi tengkorak memanjang tertua yang pernah ditemukan.

Karena karakteristiknya yang aneh, maka spekulasi pun berkembang mengenai asal-usulnya.

Lalu, benarkah tengkorak ini milik dari alien atau makhluk misterius lainnya?

Darimana asal Tengkorak ini?
Sebagian peneliti UFO percaya kalau tengkorak ini adalah milik alien atau manusia keturunan alien (alien hybrid). Tetapi, tentu saja teori ini tidak bisa dibuktikan karena argumen ini juga didasarkan pada teori lain (teori ancient astronout) yang juga belum terbukti.

Lalu, peneliti lain menyatakan kemungkinan kalau tengkorak itu adalah milik ras manusia tertentu yang memang memiliki karakteristik kepala seperti itu. Namun, masalahnya adalah tengkorak memanjang ternyata ditemukan tersebar luas di banyak tempat di dunia. Ini membuat teori ini menjadi semakin tidak mungkin karena penyebaran ras di masa lampau sangat terbatas. Lagipula, hingga hari ini, para peneliti belum bisa mengidentifikasi ras yang dimaksud.

Teori yang lain lagi menyatakan kalau tengkorak memanjang tersebut mungkin adalah hasil dari sebuah penyakit yang mengubah ukuran kepala. Ini cukup bisa diterima karena pada masa modern ini, penyakit seperti itu memang ada. Namanya Craniosynostosis.

Tulang tengkorak bayi tersusun atas beberapa lempeng tulang. Celah di antara lempeng ini disebut sutura. Pada bayi yang baru lahir, sutura ini masih lebar dan belum tertutup rapat.

Jika Sutura tersebut menutup secara prematur, otak bayi akan bertumbuh ke arah sutura yang masih terbuka. Dengan demikian, kepala anak akan mulai memanjang. Inilah yang disebut Craniosynostosis.

Namun teori ini juga dipersoalkan mengingat Craniosynostosis tidak bisa menghasilkan kepala dengan bentuk memanjang yang sempurna. Pada banyak tengkorak memanjang yang ditemukan, bentuknya cukup sempurna sehingga terlihat kalau kepala itu seperti dibentuk dengan sengaja.

Karena itu, sekarang kita akan melihat teori lainnya yang dianggap sebagai jawaban paling masuk akal mengenai asal-usul tengkorak ini.

Cranial Binding - Modifikasi bentuk kepala
Menurut teori ini, tengkorak memanjang tersebut dihasilkan dari modifikasi kepala yang memang sengaja dilakukan oleh suku-suku purba. Teknik modifikasi ini disebut Cranial Binding.

Praktek seperti ini cukup umum ditemukan di negara-negara Amerika Latin pada masa lampau. Namun mulai menghilang ketika para misionaris kristen masuk ke wilayah-wilayah itu.

Sebagai catatan, modifikasi tubuh bukanlah sesuatu yang aneh dalam tradisi suku-suku purba di seluruh dunia. Misalnya, kita mungkin mengetahui mengenai suku Karen di Burma yang menaruh banyak gelang besi di lehernya sehingga leher mereka menjadi lebih panjang. Lalu, praktek Foot Binding yang dilakukan pada perempuan Cina masa lampau yang membuat telapak kaki mereka menjadi lebih kecil dan lain-lain.

Mengenai Cranial Binding, kita bisa menemukan tradisi ini disinggung dalam banyak catatan-catatan kuno.

Cranial Binding di dalam sejarah

Hippocrates, pada tahun 400 SM, pernah menulis mengenai sebuah suku yang disebutnya suku Macrocepheles karena praktek mereka dalam memodifikasi bentuk kepala.

Lalu, Freidrich Ratzel dalam bukunya yang berjudul The History of Mankind yang terbit tahun 1896 juga melaporkan adanya tradisi modifikasi kepala di Tahiti, Samoa, Hawai dan New Hebrides.

Lalu, suku Huns di Jerman juga mempraktekkan tradisi ini yang kemudian juga diikuti oleh suku-suku lain yang ditaklukkannya. Praktek serupa juga dilakukan oleh suku Aborigin di Australia dan beberapa suku Indian Amerika seperti Chinookan dan Choctaw.

Princess of the House of Este - Bangsawan Italia abad ke-15

Jika kita tidak memasukkan tengkorak memanjang yang diklaim sebagai kepunyaan manusia Neanderthal, maka mungkin bangsa Mesir adalah bangsa yang paling awal melakukan modifikasi kepala, yaitu sejak tahun 3.000 SM. Ini menjelaskan adanya relief yang menunjukkan beberapa tokoh yang memiliki bentuk kepala memanjang.

Jadi, budaya ini cukup mendunia.

Proses Cranial Binding
Proses Cranial Binding dilakukan sejak seorang bayi baru lahir ke dunia. Umumnya, mereka akan menggunakan kulit, tali atau kain untuk mengikat kepala bayinya hingga beberapa tahun ke depan untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan.



Cranial Binding


Modifikasi kepala yang dilakukan oleh suku-suku purba juga tidak hanya untuk menghasilkan bentuk kepala yang memanjang. Kadang, ada suku yang justru menginginkan bentuk kepala yang datar. Ini disebut Flattening Skull atau meratakan tengkorak kepala.

Flattening Skull

Mengapa Cranial Binding dilakukan?
Umumnya, modifikasi ini dilakukan sebagai tanda kecantikan dan penanda status. Di banyak suku, kepala yang memanjang mengindikasikan kalau ia adalah keturunan ningrat.

Selain itu, ada suku lain yang percaya kalau memanjangkan bentuk kepala dapat meningkatkan kecerdasan seseorang dan membuatnya lebih dekat kepada dunia roh. Kepercayaan ini salah satunya bisa ditemukan di suku di pulau Tomman, Vanuatu.

Lalu, apakah tradisi ini masih bisa ditemukan pada masa kini?

Jawabannya adalah: Tentu saja!

Walaupun Cranial Binding dengan teknik yang ekstrim telah lenyap sekitar 100 tahun yang lalu, namun praktek yang lebih moderat masih bisa ditemukan pada masa modern ini.

Cranial Binding di Masa Modern

Karena itu saya mengatakan kalau penjelasan ini lebih masuk akal karena kita masih bisa menemukan contoh-contohnya di masa modern ini.

Misalnya adalah suku Mangbetu di Kongo Utara dan suku Zande di Afrika Tengah. Dalam kasus suku Mangbetu, Modifikasi kepala dilakukan sebagai ekspresi kecantikan dan tanda kepintaran. Mereka melakukannya dengan mengikat kepala bayi mereka dengan tali. Lalu, ikatan itu akan dikencangkan setiap beberapa bulan sehingga menghasilkan bentuk kepala yang diinginkan.


Walaupun banyak contoh yang bisa kita lihat, sebagian peneliti masih ragu dengan teori modifikasi kepala. Menurut mereka modifikasi yang dilakukan tidak bisa menyamai besarnya tengkorak-tengkorak Peru yang ditemukan.

Namun, Beatrice Blackwood dan PM Danby yang sejak lama menyelidiki modifikasi kepala percaya kalau ukuran kepala yang dihasilkan bisa berbeda tergantung dengan metode yang digunakan. Ini bisa ditemukan pada praktek salah satu suku di Papua Nugini yang ternyata menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk membentuk kepala.

Metode tertentu mungkin bisa menghasilkan ukuran kepala yang super ekstrem seperti pada tengkorak-tengkorak Peru.

Lalu, bukti lain yang menguatkan teori ini adalah fakta kalau tengkorak-tengkorak tersebut ditemukan di wilayah yang suku-sukunya diketahui memang mempraktekkan Cranial Binding, seperti Peru, Mesir dan Eropa.

Jadi, saya rasa penjelasan ini lebih masuk akal dibanding teori lainnya yang tidak didukung oleh bukti yang kuat.

Satu-satunya pertanyaan yang mungkin masih belum terjawab oleh para peneliti adalah mengapa praktek ini bisa dilakukan di banyak wilayah di dunia oleh suku-suku yang berbeda yang terpisah oleh wilayah Geografis yang cukup jauh? (Achmad Zaenudin Ali)

Manusiakah Pemilik Tengkorak Kristal?

Misteri tengkorak kristal

Ada sebuah legenda asli amerika yang menyebutkan adanya 13 tengkorak manusia yang terbuat dari kristal yang dapat berbicara dan bernyanyi. Menurut legenda tersebut, tengkorak kristal tersebut mengandung jawaban atas sejumlah misteri dunia dan kehidupan. Legenda itu juga mengatakan bahwa suatu hari nanti, ketika umat manusia mengalami krisis besar, maka 13 tengkorak tersebut akan ditemukan kembali dan dikumpulkan untuk sekali lagi memberikan pengetahuan dan informasi vital kepada umat manusia.
Ketika pertama kali mendengar legenda diatas, kita membayangkan sebuah film, Indiana Jones, The kingdom of the crystal skull. Namun hanya sedikit yang mengetahui bahwa film tersebut dibuat berdasarkan legenda nyata. Nyata karena sesungguhnya di Amerika tengah telah ditemukan tengkorak manusia yang terbuat dari kristal.
Tengkorak kristal pertama kali ditemukan di reruntuhan kota Maya dan terkubur jauh didalam hutan lebat. Pada tahun 1924, penjelajah Inggris, Frederick Mitchell-Hedges dan rekan-rekannya sedang berpetualang, berusaha untuk menemukan sisa-sisa kota legenda Atlantis di Belize, Amerika tengah. Suatu hari, ketika mereka sedang berjalan melintasi hutan lebat, mereka menemukan sebuah gundukan bebatuan yang tertutup rumput lebat dan semak-semak. Selebihnya adalah sejarah. Kelompok itu menemukan kota Lubaantun yang telah lama hilang, yang dalam bahasa Maya berarti kota batu yang berjatuhan.
Sepanjang penggalian di situs tersebut, anak angkat Mitchell-Hedges yang bernama Anna mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah tengkorak yang terbuat dari kristal terkubur dibawah altar di salah satu reruntuhan kuil yang berbentuk piramida. Diceritakan, ketika tengkorak tersebut ditemukan, para pekerja bangsa Maya segera dipenuhi dengan lompatan sukacita. Mereka segera menaruh tengkorak tersebut diatas altar, melakukan upacara dan menari mengelilinginya. Sepertinya, sebuah kekuatan kuno dan gaib telah kembali kedalam kehidupan orang-orang tersebut. Tengkorak tersebut sepenuhnya terbuat dari kristal transparan. Ukurannya persis seperti ukuran tengkorak manusia dan sangat akurat secara anatomi yang ditunjukkan dengan tulang rahang yang terpisah.
Anna Mitchell Hedges yang menemukan tengkorak tersebut meninggal pada tahun 2007 pada usia 100 tahun. Ia telah menyimpan tengkorak tersebut seumur hidupnya. Anna percaya bahwa tengkorak tersebut telah memberikan kepadanya kekuatan dan kesehatan hingga ia berumur 100 tahun. Beberapa orang yang pernah menghabiskan waktu bersama tengkorak itu juga mengaku mengalami beberapa pengalaman aneh, seperti terdengarnya suara lembut, seperti sebuah senandung keluar dari tengkorak tersebut. Dan terkadang mereka bisa melihat kilasan-kilasan gambar masa lalu dan masa depan tercermin dari tengkorak tersebut.
Yang mengejutkan, Tengkorak kristal Anna Mitchell Hedges, bukanlah satu-satunya tengkorak kristal yang ditemukan. Sejak penemuan itu, beberapa tengkorak yang lain telah ditemukan – seperti yang diramalkan oleh legenda kuno. Saat ini paling tidak ada enam tengkorak lain yang disimpan di museum-museum ternama dunia.
Semua tengkorak tersebut sampai sekarang masih belum diketahui asal-usulnya. Kebanyakan pemiliknya percaya bahwa tengkorak tersebut berasal dari Amerika tengah, apakah itu dari bangsa Maya, Aztec atau bahkan suku dari masa sebelum bangsa Maya yaitu suku Atlantis yang misterius.
Perspektif Ilmiah
Dr Jane Walsh adalah seorang spesialis MesoAmerican yang terkemuka di dunia yang bekerja untuk Smithsonian Institute. Dan saat ini, ia adalah pemilik dari salah satu tengkorak kristal. Dr Walsh seperti sebagian besar arkeolog yang lain percaya bahwa tengkorak kristal tersebut adalah sebuah tipuan yang cerdas, dan bukan peninggalan bangsa kuno. Ia berteori bahwa tengkorak tersebut kemungkinan dibuat pada abad ke-19 untuk memuaskan permintaan akan barang antik kuno. Namun Dr Walsh sendiri tidak memiliki bukti untuk mendukung teorinya.
Dr Walsh berusaha mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap tengkorak tersebut untuk mengetahui asal-usulnya. Salah satu kendala yang dihadapinya adalah kristal tidak memiliki karbon, karena itu mustahil melacak usia tengkorak tersebut dengan metode karbon. Salah satu cara yang tersisa adalah melihat dengan teliti permukaan kristal dan berusaha untuk menemukan jejak peralatan yang digunakan untuk membuat kristal tersebut. Apabila ditemukan jejak peralatan tangan, maka kemungkinan tengkorak tersebut memang berasal dari peradaban kuno. Dan apabila ditemukan jejak peralatan mekanik, maka kemungkinan usia tengkorak tersebut lebih modern, yang berarti bisa berasal dari zaman Columbus hingga abad ke-20.
Sebelumnya, pada tahun 1970-an Anna Mitchell Hedges juga menyerahkan tengkorak tersebut kepada tim dari Hewlett Packard untuk diteliti. Hewlett Packard sebagai ahli dalam bidang komputer dan peralatan elektronik tentu juga ahli dalam bidang kristal.
Apa yang ditemukan oleh tim dari Hewlett Packard sangat mengejutkan. Mereka menemukan bahwa bahan dasar kristal tengkorak tersebut adalah sama seperti yang digunakan di industri elektronik saat ini, bahan tersebut bernama piezo electric silicon dioxide, yang banyak dipakai karena kemampuannya menyimpan data. Mikroprosesor modern dibuat dari bahan ini.
Dengan menggunakan metode polarisasi cahaya, satu lagi penemuan yang mengejutkan terungkap. Tempurung atas kepala tersebut ternyata pernah menempel pada struktur bebatuan kristal yang keras. Mereka sungguh terkejut dengan penemuan ini. Karena bahan dasar tengkorak ini adalah batu terkeras nomor dua di dunia setelah permata. Belum ada peralatan yang mampu untuk memecah kristal tersebut. Apabila mesin mekanik yang dipaksa digunakan untuk memahat tengkorak itu, maka kristal tersebut pasti akan hancur menjadi pecahan-pecahan kecil. Akhirnya tim Hewlett Packard menyimpulkan bahwa tengkorak tersebut dibuat menggunakan tangan.
Namun kesimpulan ini membawa kepada kesimpulan lain yang lebih mengejutkan. Menurut perhitungan para ilmuwan, apabila tengkorak itu dibuat dengan tangan, maka dibutuhkan waktu selama ratusan tahun untuk menyelesaikan satu tengkorak mengingat struktur kristal yang luar biasa keras. Hewlett Packard memperkirakan waktu yang dibutuhkan adalah 300 tahun. Para ilmuwan kemudian menaruh tengkorak tersebut dibawah mikroskop, berusaha untuk mencari tahu alat yang digunakan untuk membuatnya. Dan mereka tidak dapat menemukan satupun jejak peralatan baik kuno maupun modern. Mengenai ini, seorang ilmuwan berkomentar “Tengkorak ini harusnya tidak pernah ada”.
Penelitian ilmiah tidak berhenti disitu. Pada tahun 1996, British Museum bekerja sama dengan Dr Walsh dan Smithsonian meneliti semua tengkorak kristal yang ada dengan membawanya ke British Museum Research Laboratory. Enam tengkorak mulai diperiksa pada bulan April 1996, dan untuk alasan yang tidak diketahui, British Museum tidak pernah mau mempublikasikan hasilnya.
Perspektif suku asli
Bagi ilmuwan, tengkorak tersebut mungkin adalah sebuah misteri yang belum terpecahkan. Namun bagi suku-suku asli di Amerika, tengkorak itu bukanlah misteri. Dari hasil wawancara dengan para tua-tua suku asli di Amerika, terungkap sebuah kebijaksanaan kuno. Menurut mereka, Tengkorak tersebut tidak akan dapat dimengerti dengan menempatkannya dibawah mikroskop. Tengkorak tersebut dimaksudkan untuk membawa tantangan fundamental kepada pikiran kita yang rasional dan cara kita memandang dunia ini.
Bagi para shaman atau dukun dari suku-suku di Amerika tengah, tengkorak tersebut adalah sebuah medium atau pintu kepada dimensi roh yang lain. Banyak dari antara mereka berkata bahwa tengkorak tersebut membuka pintu kepada dunia paralel yang ada, dimensi lain dari dunia ini. Mereka juga percaya bahwa roh manusia dapat berjalan dan masuk ke dunia itu lewat tengkorak kristal. Selain itu, tengkorak tersebut juga dapat digunakan untuk menuntun kita kepada level yang lebih tinggi dari kesadaran kita, sesuatu yang sudah lama kita lupakan.
Seorang sesepuh bangsa Maya bernama Hunbatz Men pernah berkata bahwa tengkorak kristal pernah digunakan di upacara keagamaan di seluruh dunia. Ia percaya bahwa ada tengkorak kristal di situs-situs keagamaan di seluruh dunia, termasuk Stonehenge di Inggris. Menurut Hunbatz Men, sudah saatnya ke-13 tengkorak bersatu kembali untuk menyelamatkan umat manusia. (Achmad Zaenudin Ali)

Mummi Kucing Di Dinding

Mummi kucing berusia 400 tahun ditemukan tertanam di dinding rumah

Mei 2009, Richard Parson, seorang direktur perusahaan pemakaman sedang merenovasi sebuah rumah yang dimilikinya di wilayah Ugborough dekat Plymouth. Ketika para pekerja sedang membongkar dinding kamar mandi lantai atas, mereka menemukan sebuah mummi, mummi seekor kucing dalam kondisi utuh.

Mr. Parson mengatakan bahwa seorang tetangga pernah mengatakan kepadanya bahwa mummi itu pernah ditemukan 20 tahun yang lalu oleh penghuni rumah sebelumnya. Namun ditaruh kembali olehnya. Kucing yang ditemukan masih memiliki bentuk yang baik dengan cakar dan gigi. Diperkirakan usianya telah mencapai 400 tahun. Kemungkinan ditaruh di dinding untuk mengusir roh jahat, sesuai kepercayaan jaman dulu.

"Kelihatannya mengerikan dan kucing itu lebih besar daripada kucing pada umumnya." Kata Parson. "Aku tidak bisa membuangnya, jadi kami merencanakan untuk menaruhnya kembali ke dalam dinding. Tapi istriku segera menolaknya. Ia kuatir akan mengalami mimpi buruk."

Parson menambahkan :"Kelihatannya 400 tahun yang lalu, masyarakat menaruh mayat kucing untuk mengusir para penyihir. Sebenarnya sejak lama beredar isu atau sebuah legenda bahwa ada seekor kucing yang dikubur di dalam rumah. Namun tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya"

"Aku bukan orang yang percaya tahayul, namun kucing itu sepertinya bagian dari sejarah desa dan paling tidak menambah daya tarik tersendiri terhadap rumah itu."

Marion Gibson, seorang penyihir dan ahli legenda kuno dari Universitas Exeter berkata :"Kucing kadang ditaruh di dinding sebagai jimat keberuntungan. Kelihatannya hal itu merupakan praktek umum bagi masyarakat Eropa. Hal itu dilakukan untuk mengusir para penyihir, roh jahat, nasib buruk dan semua hal yang bisa terlhat sebagai ancaman bagi rumah" (Achmad Zaenudin Ali)

Mungkinkah Kakek Ini Mendapat Mukjizat?

Mukjizat ! Tengkorak seorang kakek yang hancur bertumbuh kembali setelah 51 tahun

Mukjizat ! itulah kata yang paling sesuai untuk menggambarkan apa yang terjadi pada seorang pensiunan berumur 72 tahun dari Inggris. Pada tahun 1950an, Gordon Moore mengalami kecelakaan tragis. Sebagian tengkorak bagian atasnya harus disingkirkan. Sejak itu dokter telah menanamkan pelat besi untuk menutupi lubang besar di kepalanya. Tahun 2009 ini, dokter dibuat terkejut karena menemukan tengkorak kepalanya kembali bertumbuh dan menutupi lubang di kepalanya.

Pada tahun 1950an, kendaraan Mr Moore mengalami kecelakaan di Northumberland. Kecelakaan ini menyebabkan sebagian tengkoraknya lepas dan ia harus mengenakan pelat besi di kepala untuk melindungi otaknya. Tiga tahun setelah kejadian itu, Mr Moore kembali mengalami kecelakaan. Kali ini ia menabrak lampu jalan. Ia terlempar dengan kepala menghantam kaca mobilnya sehingga menyebabkan pelat besi di kepalanya penyok. Demikianlah selama 47 tahun Mr Moore hidup dengan pelat besi yang penyok itu.


Tahun lalu, para dokter yang memeriksa Mr Moore menemukan pelat besi tersebut seperti terdorong keluar dan melukai kepalanya. Jadi mereka memutuskan untuk melepas pelat besi tersebut. Ketika Mr Moore berada di meja operasi pada bulan Agustus, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan. Lapisan tulang yang baru tumbuh dibawah pelat besi tersebut.



Semua bagian tengkorak Mr Moore yang hancur mulai dari alis mata hingga bagian kepala belakang telah mengalami regenerasi !


Kejadian ini dianggap luar biasa di dalam dunia medis karena sebelum ini di dunia hanya pernah ditemukan satu kasus dimana seorang dewasa mengalami regenerasi tulang tengkorak.


Mr. Moore yang merupakan kepala kantor pos di North Shields, Newcastle telah diberitahu oleh para dokter bahwa ia tidak membutuhkan pelat besi itu lagi. Sekarang ia menikmati hidup barunya.


"Menurut dokter, tulang memang bisa bertumbuh, namun tidak pernah terjadi pada setengah tengkorak seperti ini. Tulang tengkorakku yang baru memiliki bentuk sama persis dengan pelat besi tersebut." Kata Mr Moore.


Dia menambahkan,"Saya telah meminta pelat besi itu sebagai suvenir, namun saya belum menerima jawaban dari dokter."


Para dokter di Newcastle General Hospital mengatakan bahwa mereka menemukan hal ini sangat menarik dan menginginkan diadakan penelitian lebih lanjut atas Mr Moore, yang sekarang tinggal di Hexham.


Konsultan neorolog Param Bhattahiri yang bertanggung jawab atas perawatan Mr Moore berkata,"Sangat mengejutkan menemukan tulang tengkorak tersebut bertumbuh kembali. Kita bisa mengharapkan tulang bertumbuh kembali pada anak kecil, namun tidak pada orang dewasa dan pada area tengkorak sebesar itu." (Achmad Zaenudin Ali)

Mobil Roda Dua

Konsep Motor Berotot Menakjubkan Ala Hyundai
 
 
Headline
 
 Jakarta – Pabrikan yang biasa membuat mobil ini kini mencoba unjuk gigi dalam merancang motor. Sebuah motor berotot yang tampak gagah pun terlahir. Seperti apa?
Meski pada pandangan pertama motor ini tampak seperti terinspirasi otot dari spesies organik, Hyundai Consept Motorcycle berbeda dengan konsep motor yang pernah ada. Pasalnya, pada konsep ini, motor tampak lebih dari sekadar bentuk organik.
Rancangan ini memiliki estetika yang lebih tradisional. Konsep ini merupakan buah pikiran Min Seong Kim yang menunjukkan adanya kaitan antara Hyundai Consept Motorcycle dengan sifat alami animalistik.
Melalui penambahan bagian atas yang tampak mengurung pengendara, membuat kemudi tak butuh alat bantu. Konsep motor jelas mendukung untuk mengendarai motor dengan posisi yang sehat. (Achmad Zaenudin Ali)

More Beautiful More Selfish

Don’t rely on a pretty face: Beautiful people with symmetrical faces more likely to be selfish


Their beautiful facial features have made them the envy of men and women the world over.
But the likes of George Clooney and Kate Moss aren’t that perfect after all.
Beauty, it appears, really is only skin-deep.

Beautiful people: Those with more symmetrical features like Brad Pitt are likely to be selfish by nature
Beautiful people: Those with more symmetrical features like Natalie Portman are likely to be selfish by nature
Beautiful people: Those with symmetrical features like Brad Pitt and Natalie Portman are more likely to be selfish by nature

According to new research those with symmetrical facial features – regarded by many as the more attractive – are significantly more selfish than the rest of us mere mortals.
Researchers found they were less likely to cooperate in pursuit of the greater good and more likely to feather their own nests.
As part of the study, due to be unveiled later this month, participants were given the option of being a ‘dove’ and cooperating with others for shared benefit, or taking on the role of a ‘hawk’.
As ‘hawks’ they had the chance to gain more if the other participant chose to be a ‘dove’.
Scientists then analysed their faces and discovered that those with more symmetrical facial features were more inclined to be hawks.
The team examined the facial features of 292 people at the age of 83 who took part in the Lothian Birth Cohort 1921, a study that has followed the participants throughout their life.

Research suggest that those with symmetrical features are healthier and more self sufficient
Research suggest that those with symmetrical features are healthier and more self sufficient
Healthy: George Clooney and Kate Moss both have symmetrical attributes

They analysed 15 facial ‘landmarks’, including the positions of the eyes, nose, mouth and ears, and were able to compare the facial symmetry of participants.
Those with asymmetrical faces tended to be less healthy and more likely to have experienced deprived childhoods.
Factors such as a lack of nutrition, illness, exposure to cigarette smoke and pollution left their mark, the researchers concluded.
Even those who went from rags to riches could not escape the tell-tale signs.
Deep lines and weather-beaten skin were instant giveaways about their hard lives, they said.
‘As people with symmetrical faces tend to be healthier and more attractive, they are also more self-sufficient and have less of an incentive to cooperate and seek help from others,’ the study found.

Aishwarya Rai has often been named one of the most beautiful women in the world
Michelle Pfeiffer has often been named one of the most beautiful women in the world
Both Michelle Pfeiffer and Bollywood actress Aishwarya Rai are ranked among the most beautiful women in the world

‘Through natural selection over thousands of years, these characteristics continue to the present day.’
The study, published in the journal Economics and Human Biology, was compiled by Edinburgh University researchers and will be presented at a gathering of Nobel prize winners in Germany later this month.
Prof Ian Deary, from the department of psychology at the university's centre of cognitive ageing, said: ‘Symmetry in the face is thought to be a marker of what is called developmental stability: the body's ability to withstand environmental stressors (stress factors) and not be knocked off its developmental path.
‘We wondered whether facial symmetry would faintly record either the stressors in early life, which we thought might be especially important, or the total accumulated effects of stressors.
‘The results indicated that it is deprivation in early life that leaves some impression on the face.’
While there was a strong link between social class and facial symmetry in men, the connection in women was less clear.
Researchers are now planning to examine whether facial symmetry could also play a part in identifying those who might be at an increased risk of illness. (Achmad Zaenudin Ali)

Soon You Could Make it a Year in Advance

Bye-bye to use-by dates: A magic ingredient that could keep food (and wine) fresh for years



No time to make a packed lunch before work? Soon you could make it a year in advance.
Scientists have discovered a natural preservative which could spell the end of rotting food.
They have pinpointed the substance which destroys the bacteria that make meat, fish, eggs and dairy products decompose. 


Fresh for longer: The new substance would keep sandwiches on the shelves for much longer
Fresh for longer: The new substance would keep sandwiches on the shelves for much longer

The preservative, called bisin, could extend the food’s life for several years – and even work for opened bottles of wine and salad dressing.
The discovery is set to revolutionise the way we shop and reduce the 20million tonnes of food waste thrown out in the UK every year.
Bisin occurs naturally in some types of harmless bacteria. It prevents the growth of lethal bacteria including E-coli, salmonella and listeria.
 


The substance could extend the life of a variety of everyday foods which have strict use-by dates including seafood, cheese and canned goods.
In some cases these foods could last for years and may not even need to be kept in the fridge, the researchers at the University of Minnesota claim.
The scientists, who have patented the substance, are already in talks with food manufacturers. The first products containing bisin are expected to be on the market within three years.
Dr Dan O’Sullivan, an Irish microbiologist who works at the university, made the discovery by accident while examining a culture of bacteria found in the human intestine.

Here's to bisin: The chemical could extend the life of opened bottles of wine
Here's to bisin: The chemical could extend the life of opened bottles of wine

He said: ‘It seems to be much better than anything which has gone before. It doesn’t compromise nutrient quality – we are not adding a chemical, we are adding a natural ingredient.
‘It’s aimed at protecting foods from a broad range of bugs that cause disease.’
Bisin will not prevent fruit and vegetables rotting as they decompose in a different way.
Sandwiches, takeaways and ready meals have become a staple part of our diet, but mass production has increased the risks of food poisoning. There were 85,000 cases last year.
Salmonella was one of the biggest culprits, accounting for around one in eight of those.
Up to 500 people die from food poisoning in England and Wales every year.
Bisin is chemically related to nisin which is already used to keep  processed cheese sterile and edible for decades so it does not require pharmaceutical testing.
Last month food and drink wholesaler Booker revealed it would start  supplying sandwiches with a shelf-life of two weeks to convenience stores and corner shops.
The sandwich, the firm says, is designed to minimise wastage by retailers.
The secret to its long life is in the ingredients, including oatmeal bread, as well as a protective atmosphere inside the packaging.
It uses a process of gas flushing in which oxygen in the packaging is replaced by CO2 and nitrogen.
British households throw out £5billion worth of uneaten food a year, a study has revealed.
The average household bins a staggering ten per cent of their weekly shop, while one in five families wastes more than a quarter.
Just 71 per cent of shoppers say they think about waste while buying food and try not to take home too much, the poll by LG Electronics found.
But 15 per cent admit they make no effort to reduce their waste. (Achmad Zaenudin Ali)